Ternyata Songkok Memiliki Kisah, Ingin Tau? Yuk Simak di Sini

31 0

Dalam hidup kita sehari-hari, kita sangat sering melihat sebagian orang dengan memakai penutup kepala yang hampir sama dengan Topi tetapi itu bukanlah sebuah topi melainkan adalah Songkok atau yang biasa disebut sebagai Peci. Jika berbicara mengenai Songkok atau Peci, banyak hal yang harus diketahui dari kehadirannya di Dunia. Lantas, apa sajakah itu? Bagi anda yang ingin tau secara mendalam, sebaiknya langsung simak saja semua penjelasannya yang ada di bahwa ini.

Berikut beberapa hal penting mengenai songkok

Definisi songkok

Songkok atau peci atau juga berkopiah adalah sebuah topi yang banyak dipakai di Indonesia, Brunei, Malaysia, Singapura, Filipina dan Thailand yang dipakai sebagian besar antara laki-laki Muslim. Hal ini mungkin terkait dengan budaya Melayu. Ini memiliki bentuk kerucut yang biasanya terbuat dari bordiran kain atau kapas dan juga beludru serta banyak bahan lainnya yang biasanya datang dalam warna hitam.

Penutup kepala ini juga dikenakan oleh laki-laki dalam situasi yang resmi seperti perayaan-perayaan seperti pernikahan, pemakaman atau acara-acara seperti yang dirayakan oleh kebanyakan orang Muslim Idul Fitri dan Idul Adha. Songkok datang untuk dihubungkan dengan Islam di Brunei, Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina, sementara di Indonesia peci juga dapat dikaitkan dengan gerakan nasionalis.

Hal ini disebut “songkok” dalam lingkup budaya etnis Melayu di Indonesia. Sementara di Jawa, itu disebut “berkopiah” atau “kopeah”.  Ini juga dikenal secara luas di Indonesia sebagai “peci”, meskipun peci memiliki bentuk lain dan kadang-kadang memiliki sedikit hiasan. Nama “peci” mungkin berasal dari kata Belanda petje berarti “topi kecil”, atau mungkin berasal dari Turki.

Asal-usul songkok

Asal-usul songkok dapat ditelusuri yang diadopsi oleh seseorang bernama Utsmaniyah pada tahun 1826 dan kemudian menyebar ke Asia Selatan dan telah diperkenalkan ke Nusantara (yang sekarang bagian dari Indonesia, Malaysian dan Brunei).

Songkok digunakan di beberapa bagian Afrika. Brunei keliru dan menyatakan bahwa songkok menjadi norma di Nusantara pada abad ke-13 dengan kedatangan Islam di wilayah tersebut. Pada awalnya songkok berasal dari seseorang yang bernama Syair Siti Zubaidah pada tahun 1840.

Di sisi lain, songkok telah menjadi bagian dari kostum tradisional kebanyakan pria Melayu yang berhubungan dengan Islam, biasanya dipakai oleh ulama. Melayu telah menggunakan songkok sebagai bagian dari seragam mereka sejak di bawah kekuasaan Inggris.

Sejarah songkok

Sering disalahpahami bahwa songkok adalah jenis yang berbeda yang telah dipakai oleh tentara dan warga sipil di Asia Selatan. Sekarang ini adalah jenis penutup kepala yang dipakai secara luas di Indonesia, Brunei, Malaysia, Singapura, Thailand dan bahkan di beberapa bagian dari Filipina. Songkok tersebar ke Asia Selatan oleh pelaut. Jenis songkok juga dipakai dalam bagian dari Kekaisaran dan bahkan bagian Afrika.

Kata asli “songkok” dilaporkan pertama tercatat pada abad ke-19 oleh sesorang penulis puisi “Syair Siti Zubaidah” yang pada awalnya itu disebut sebagai Bulang. Dalam budaya etnis Melayu, kini dikenal sebagai Songkok dan seluruh Indonesia mengenalnya atau menyebutnya sebagai Peci.

Songkok berasal dari kata Belanda “petje,” yang berarti topi kecil. Di Jawa, ini disebut sebagai topi atau “berkopiah” atau “kopeah.” Dikatakan, songkok tiba di Asia Tenggara melalui Maritim di abad ke-13 berhubungan dengan penyebaran Islam.

Topi atau songkok atau bisa juga dikatakan Peci sering dipakai oleh laki-laki Muslim, terutama di acara-acara resmi. Tapi songkok juga bagian nasional di Indonesia. Songkok dipakai oleh  banyak tokoh penting Indonesia pada awal abad ke-20 seperti Sukarno, Muhammad Hatta dan Agus Salim. Sebagai Presiden pertama Indonesia Sukarno mempopulerkan songkok atau peci dan menjadi topi pria nasional bangsa.

Ini dikenakan oleh penjaga istana Indonesia sebagai bagian dari seragam dan juga dikenakan saat ini oleh personil militer di Malaysia.

Songkok di Brunei Darussalam

Mengenakan tutup kepala selalu menjadi bagian dari busana perempuan Brunei sejak zaman dahulu. Ini adalah hiasan kepala yang berbeda ketika dipakai, hal yang lebih sering dalam penggunaan songkok baik untuk acara formal dan informal.

Umumnya, tutup kepala pria di Brunei Darussalam dapat dikategorikan menjadi tiga jenis yaitu dastar yang merupakan bagian kain yang diikat di sekitar kepala; Songkok atau berkopiah, jenis topi yang terbuat dari beludru; dan tangkolok atau serban yang menyerupai serban dan hiasan kepala khas di Timur Tengah.

Tidak seperti dastar, yang juga dikenal sebagai tanjak dan telah ada di Brunei Darussalam sebelum songkok dan serban itu beralih oleh pedagang Arab yang  beberapa di antaranya dua kali lipat sebagai misionaris Islam lebih dari 6 atau 7 ratus tahun yang lalu.

Sementara asal-usul serban pernah diragukan keberadaannya, banyak spekulasi telah dibuat mengenai songkok hanya karena hal ini tidak lagi terlihat di kalangan Arab. Namun demikian menurut penelitian itu memang berasal dari Timur Tengah dan kemudian dibawa ke India, dimana perbaikan kecil seperti menempatkan karya-karya dalam membuatnya lebih kencang.

Songkok menjadi sebuah pemandangan yang akrab di Kepulauan Melayu di sekitar abad ke-13 ketika Islam mulai masuk di wilayah itu. Dengan meningkatnya popularitas songkok, itu tampak berpengaruh dengan kehadiran Islam dan ini cukup Logis karena agama mendorong untuk menutupi kepala mereka.

Sebenarnya hal ini dianggap sunat (perbuatan baik sukarela) untuk laki-laki Muslim untuk tutup kepala yang dilakukan dalam selera yang baik. Serban juga sangat banyak yang dapat dibuktikan pada waktu yang sama tetapi sangat sering dipakai oleh para ulama (cendekiawan Muslim).

Pengrajin Melayu yang mulai membuat Kopiah hampir berbentuk bulat serta sedikit lonjong yang bagian atasnya horizontal. Setelah jangka waktu pemakaian songkok menjadi tradisi dan identik dari orang Melayu, dengan demikian secara bertahap menggantikan dastar sebagai bagian dari pakaian Nasional Melayu pada kesempatan paling formal.

Hari ini, seperti yang lainnya, songkok datang dalam banyak variasi warna sesuai gaya dan selera. Oleh karena itu, tidak biasa bagi seorang pria untuk memiliki setidaknya dua warna berbeda dengan pakaian nasional lainnya yang tentunya juga berwarna-warni.

Beberapa orang ingin memiliki songkok yang sesuai dengan keinginannya, itu berarti bahwa mereka harus membayar sedikit lebih sehingga mereka dapat memasukkan inovasi mereka sendiri serta memilih jenis dan warna sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Orang lain yang memiliki ekonomi lebih, lebih suka untuk memilih dari berbagai macam songkok siap pakai yang sudah tersedia di banyak toko-toko.

Penjualan Songkok biasanya akan melambung tinggi pada saat akan mendekati Lebaran yang merupakan perayaan  untuk menandai akhir bulan dari bulan puasa atau yang disebut dengan Ramadhan. Tidak hanya para orang tua yang ingin memburu salah satu dari pakaian muslim, tetapi anak-anak mereka juga ikut serta ingin memilikinya. Karena pentingnya Hari Raya keagamaan, songkok dipakai oleh hampir semua orang tua dan juga anak muda.

Nilai mengenakan songkok disampaikan kepada kaum muda baik di rumah maupun di sekolah. Orang dewasa mungkin tidak ingin mengenakan songkok sepanjang waktu tapi dia pasti akan memakainya di berbagai kesempatan penting termasuk kegiatan keagamaan dan negara.

Tentu saja ada orang yang terbiasa memakai songkok dalam kesehariannya. Pada zaman dahulu, tindakan tersebut adalah biasanya dikaitkan dengan kesalehan, tapi saat ini orang-orang yang mengenakan songkok hanya dari keinginan untuk memenuhi persyaratan agama. Beberapa pegawai pemerintah memakai songkok sebagai bagian dari seragam mereka.

Songkok di Sulawesi Selatan

Kabupaten Bone terletak sekitar 180 kilometer dari kota Makassar, Sulawesi Selatan. Yang sangat terkenal di seluruh pulau bahkan di Indonesia adalah songkok yang terlihat seperti topi tengkorak. Itu sering disebut sebagai songkok Recca karena terbuat dari pelepah pohon kelapa muda.

Jadi, Songkok tulang atau Songkok Recca adalah benar-benar sebuah topi tengkorak yang dibuat oleh orang Bugis dari tulang. Tutup kepala khas terbuat dari pelepah pohon pakis. Di zaman kuno, hanya raja dan bangsawan Bone yang mendapat kehormatan untuk memakainya.

Topi tengkorak atau penutup kepala adalah bagian dari pakaian tradisional laki-laki dari Bugis di Sulawesi Selatan. Terutama untuk para raja dan bangsawan, topi biasanya dihiasi dengan benang emas. Lapisan emas yang tebal diartikan sebagai semakin tinggi posisi pemakainya.

Sekarang, sejalan dengan perubahan zaman, pemakai songkok tulang atau topi tengkorak dari tulang tidak terbatas untuk raja atau bangsawan lagi. Siapa pun dapat memakainya, asalkan ia bisa membayar. Terutama untuk yang berlapis emas murni, lebih tebal benang emas itu maka lebih mahal harga songkoknya.

Untuk saat ini, anda dapat menemukan songkok tulang di toko-toko pakaian tradisional di seperti Makasar, Wajo, Soppeng dan daerah lainnya di Sulawesi Selatan. Harga bervariasi, mulai dari Rp. 50.000 ke atas. Bahkan lebih menarik, songkok tulang tidak perlu digabungkan dengan pakaian tradisional Bugis. Ini dapat dikombinasikan dengan sesuatu seperti kemeja atau juga bisa memakainya untuk bertamasya atau kegiatan lainnya.

Di masa lalu, warna songkok atau topi tengkorak hanya memiliki 1 warna saja yaitu hitam. Warna hitam yang Diperoleh dari ijuk yang setelah di tumbuh akan menjadi putih. Kemudian serat yang direndam dalam lumpur selama beberapa hari sampai mereka menjadi hitam. Tetapi setelah tahun 1990, ada warna krem dan coklat, tapi masih diambil dari pewarna alam. Warna coklat berasal dari campuran kulit batang mete yang menghasilkan kayu merah dan seppang kecoklatan yang menghasilkan warna merah muda.

Sementara warna krem diproduksi dengan menggunakan serat halus berwarna krem. Jadi, jika anda kebetulan mengunjungi Sulawesi Selatan jangan lupa untuk membeli Songkok tulang atau songkok Recca sebagai souvenir.

Songkok di Indonesia

Diambil dari beberapa sumber, saat itu Bung Karno bercerita bagaimana ia bertekad mengenakan peci sebagai lambang pergerakan. Di masa itu kaum cendekiawan pro-pergerakan nasional enggan memakai blangkon, misalnya, tutup kepala tradisi Jawa. Ada sejarah politik dalam tutup kepala ini. Di sekolah “dokter pribumi”, STOVIA, pemerintah kolonial punya aturan: siswa “inlander” (pribumi) tak boleh memakai baju Eropa.

Maka para siswa memakai blangkon dan sarung batik jika dari”Jawa”. Bagi yg datang dari Maluku atau Manado, misalnya, lain. Bagi siswa asal Manado atau Maluku, yang biasanya beragama Kristen, boleh memakai pakaian Eropa: pantalon, jas, dasi, mungkin topi.

Dari sejarah ini, tampak usaha pemerintah kolonial untuk membagi-bagi penduduk dari segi asal-usul “etnis”dan “agama”. Maka banyak aktivis pergerakan nasional menolak memakai blangkon. Apalagi mereka umumnya bersemangat “kemajuan”, modernisasi. Jadi penolakan terhadap kostum tradisi mengandung penolakan terhadap politik kolonial “divide et impera” dan penolakan terhadap adat lama. Lalu apa gantinya?

Untuk pakai topi seperti Belanda-belanda itu akan terasa menjauhkan diri dari rakyat. Juni 1921, Bung Karno menemukan solusi. Ia memilih pakai peci. Waktu itu ada pertemuan Jong Java di Surabaya. Bung Karno datang,dan ia memakai peci. Tapi ia sebenarnya takut diketawakan. Tapi ia berkata pada dirinya sendiri, kalau mau jadi pemimpin, bukan pengikut, harus berani memulai sesuatu yang baru. Waktu itu, menjelang rapat mulai, hari sudah agak gelap. Bung Karno berhenti sebentar.

Ia bersembunyi di balik tukang sate. Setelah ragu sebentar, ia berkata kepada diri sendiri: “Ayo maju. Pakailah pecimu. Tarik nafas yang dalam! Dan masuk SEKARANG!!!” Lalu ia masuk ke ruang rapat. “Setiap orang memandang heran padaku tanpa kata-kata”, kata Bung Karno mengenangkan saat itu.

Untuk mengatasi kekikukan, Bung Karno bicara. “Kita memerlukan suatu lambang daripada kepribadian Indonesia.” Peci, kata Bung Karno pula, “dipakai oleh pekerja-pekerja dari bangsa Melayu”. Dan itu asli kepunyaan rakyat kita. Menurut Bung Karno, kata “peci” berasal dari kata “pet” (topi) dan “je”, kata Belanda untuk mengesankan sifat kecil. Baik dari sejarah pemakaian dan penyebutan namanya, peci mencerminkan Indonesia: satu bangunan “inter-kultur”.

Maka tak mengherankan bila dari mana pun asalnya, agama apapun yang dianutnya, kaum pergerakan memakai peci. Kesimpulan bawah sesungguhnya peci itu bukanlah sebuah simbol agama, tapi merupakan simbol budaya dari bangsa Indonesia khususnya dan bangsa Melayu pada umumnya. Dalam hal ibadah mengapa kebanyakan orang Islam mengenakan peci (yang laki-laki), itu dimaksudkan untuk menutup kepala dari tertutupnya rambut disaat sujud ketika sholat.

Disamping itu, dikarekan para santri yang menjadi ujung tombak perjuangan indonesia terutama santri NU telah ditamkan dalam hati mereka bahwa “cinta tanah air adalah sebagian dari Iman” sehingga demi persatuan untuk merdeka, seolah-olah peci adalah bagian busana yang wajib dikenakan.

Seiring beragamnya budaya maka penyebutanya pun beragam. Sebagian ada yang menyebutnya peci, sebagian lagi ada yang menyebutnya kopiyah dan sebagian yg lain menyebutnya songkok dengan pandangan filosofi yang berbeda pula. Tapi, baik itu peci, kopiyah, atau songkok, yang terpenting adalah penutup kepala berbahan bludru seperti yang dipopulerkan oleh Bung Karno adalah simbol kepribadian dan kesatuan indonesia.

Penggunaan sekarang

Secara tradisional, songkok berhubungan dengan topi pria Muslim. Namun, di Indonesia, songkok telah menjadi salah satu pakaian nasional dengan konotasi nasionalis sekuler yang dipopulerkan oleh Sukarno. Sejumlah aktivis gerakan nasionalis Indonesia di awal abad ke-20 memakai peci yang selain Sukarno juga melibatkan Muhammad Hatta dan Agus Salim. Namun, sebagai Presiden pertama Indonesia, Sukarno yang mempopulerkan peci sebagai topi pria Nasional Indonesia.

Pengawal istana Indonesia juga memakai peci sebagai bagian dari seragam mereka. Paskibraka (pasukan kibar bendera pusaka) atau upacara hari kemerdekaan Indonesia juga memakai peci dan bahkan ada perrempuan memakai Peci dengan lengkung belakang. Suku Betawi memakai Songkok sebagai hiasan kepala mereka yang biasanya dipakai berwarna merah gelap.

Di Malaysia, pakaian tradisional laki-laki terdiri dari songkok, kemeja, celana dan ikat pinggang yang disebut baju Melayu. Dalam Dewan Negeri atau Dewan Rakyat, anggota diwajibkan memakai songkok.

Di Singapura, songkok tidak diperbolehkan untuk dikenakan di pemerintahan sebagai bagian dari seragam mereka. Singapura adalah negara sekuler dan semua penutup kepala tidak diperbolehkan untuk dikenakan. Ini adalah bagian dari standar seragam di Madrasah (sekolah agama Islam).

Songkok-Cap

Songkok adalah topi tradisional Melayu. Songkok juga digunakan sebagai pelengkap pakaian Melayu yang digunakan untuk menghadiri acara tertentu. Topi ini dikatakan berasal dari Indonesia dan sebagian besar diproduksi dengan warna hitam.

Di Indonesia, topi juga dikenal dengan nama ‘Peci’. Desa Kemuteran, Gresik, telah lama dikenal sebagai sebuah topi atau songkok desa. Di desa, topi ini juga bagian dari pakaian nasional yang terbuat dari generasi ke generasi. Membuat topi sebenarnya cukup sederhana, hampir semua penduduk desa Kemuteran mampu melakukannya. Bahan topi adalah kain beludru.

Saat ini, topi beragam. Banyak pengusaha topi memiliki spesialisasi Songkok untuk proses pembuatan. Yang paling sederhana adalah topi halus dengan warna hitam polos.

Model lain adalah topi dengan bordir motif Malaysia atau Indonesia. Di Sumatera, itu disebut “Songket”. Topi telah menjadi sangat baik di wilayah Sumatera. Terutama karena motifnya mirip dengan Melayu atau Aceh. Model terbaru adalah alway disebut AC karena di ujung depan dan belakang lapisan topi memiliki ventilasi dari kain berserat tipis. Topi juga memiliki beberapa hiasan karet yang tidak akan terkelupas.

Sahabatku yang baik hatinya, dengan apa yang telah kami sampaikan disini mengenai Songkok seperti yang di atas dapat dijadikan sebagai sumber bacaan yang sangat bermanfaat serta berguna bagi banyak pembacanya. Demikian ini kami sampaikan untuk anda sekalian dengan tujuan memberikan ilmu pengetahuan tambahan bagi banyak pembacanya. Selamat membaca.