Dasar Negara Indonesia, Ikuti Materi Lengkap Dari Pancasila

27 0

Sahabat, bertemu lagi dengan kami disini yang tentunya dengan sajian atau Artikel yang bermanfaat. Sebelum memulainya, dengan apa yang kami harapkan di sini di mana para pembaca dalam keadaan sehat tanpa kekurangan suatu apapun. Dan begitu juga dengan kami yang pastinya baik-baik saja. Kalau lagi sakit gak mungkin bisa ngetik artikel yang satu ini.

Sebagai masyarakat Indonesia, sudah pasti sedikit banyak mengetahui banyak hal mengenai Indonesia. Jika berbicara mengenai Indonesia, tentunya ini sangat berkaitan erat dengan Pancasila. Lalu, apa yang anda ketahui mengenai Pancasila? Oleh sebab itu, jangan kamana-mana dan simak saja penjelasannya yang ada di bawah ini. Ups.. sebelum membahasnya lebih dalam, ketahui dulu arti dari Pancasila.

Pengertian Pancasila

Pancasila adalah dasar negara Indonesia dan sebagai ideologi negara. Ini terdiri dari bahasa Sansekerta yaitu panca, 5 makna dari prinsip-prinsip sila dari Pancasila. Pancasila merupakan formulasi dan pedoman nasional dan negara untuk kehidupan semua orang Indonesia. Pancasila ditetapkan sebagai prinsip dasar Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945.

Namun, peristiwa berdarah terjadi pada 30 September 1965. Kejadian yang diduga dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dianggap sebagai upaya untuk menggantikan ideologi Pancasila menjadi ideologi Komunis.

Dalam insiden yang dikenal sebagai gerakan G30S, 6 Jenderal dan satu Kapten Angkatan bersenjata Indonesia tewas dan dimasukkan ke dalam sebuah lubang di daerah Jakarta Timur yang dikenal sebagai Lubang Buaya oleh unsur-unsur pemerintah yang digambarkan sebagai upaya Kudeta. Pergolakan yang timbul dari G-30 itu sendiri pada akhirnya berhasil ditindas oleh pihak militer Indonesia yang saat itu dipimpin oleh Mayor Jenderal Soeharto yang kemudian menjadi Presiden di era orde baru menggantikan Sukarno. Pemerintah Orde Baru kemudian menetapkan 30 September sebagai gerakan Memorial dan 1 Oktober didefinisikan sebagai hari lahir Pancasila.

Kejadian 30 September (G30S) itu sendiri yang masih sedang diperdebatkan di antara kalangan akademis tentang pelaku dan motif di balik itu. Tetapi sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, bangsa Indonesia harus bersyukur bahwa komunisme tidak dapat hidup dan tumbuh di negara Indonesia.

Pancasila tidak hanya sebuah ideologi, tetapi juga identitas masyarakat Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tercermin dalam kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari. “Ketuhanan yang Maha Esa” sebagai prinsip pertama dari Pancasila.

“Kemanusiaan yang Adil dan beradab” dalam prinsip kedua berisi nilai-nilai kemanusiaan. Arti dari nilai-nilai manusia adalah pengakuan dan martabat dan hak-hak lain, saling membantu dan berperilaku sebagai seorang yang beradab.

“Persatuan Indonesia” dalam prinsip yang ke tiga berisi nilai-nilai persatuan, berarti meskipun Indonesia adalah negara kepulauan dan dihuni oleh berbagai kelompok etnis, itu harus menegakkan persatuan dan tidak membeda-bedakan, apalagi menjadi terpisah.

“Kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat, kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan” prinsip keempat berarti Mereka berhak untuk memilih wakil-wakil mereka sendiri, memiliki posisi, hak dan kewajiban yang sama. Nilai-nilai yang terkandung dalam prinsip ini adalah bahwa orang-orang Indonesia menegakkan musyawarah untuk mufakat.

Prinsip ke lima yaitu “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” berarti bahwa keadilan sosial harus mencakup seluruh rakyat Indonesia. Untuk mendapatkan hak-hak ini, orang-orang Indonesia juga harus menghormati orang lain untuk mencapai keadilan.

Pancasila memiliki nilai yang sangat luhur. Mudah-mudahan, seiring dengan perkembangan jaman, rakyat Indonesia masih menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Sejarah lahirnya Pancasila sebagai ideologi negara dan Indonesia

Sejarah lahirnya Pancasila sebagai ideologi dan negara Indonesia diawali dengan pembacaan pidato oleh Soekarno pada sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (BPUPK atau badan investigasi persiapan kemerdekaan yang kemudian berubah untuk Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang jatuh pada 1 Juni 1945. Lahirnya Pancasila masih sering dirayakan oleh masyarakat Indonesia meskipun tidak seperti perayaan yang megah yang layaknya terjadi setiap 17 Agustus.

* Perjalanan panjang lahirnya Pancasila

Di zaman Perang Dunia II, kekalahan Jepang pada perang tidak lagi dapat disembunyikan. Jenderal Kuniaki Koisi kemudian menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang mengumumkan rencana untuk masa depan Indonesia pada tanggal 7 September 1944. Ini di umumkan oleh Koisi yang ternyata adalah suatu rencana untuk membebaskan Indonesia saat Jepang memenangkan perang Asia Timur, mengharapkan pengumuman ini akan membuat Indonesia berpikir bahwa pasukan sekutu perenggut kemerdekaan mereka.

Ini akan membentuk lahirnya Pancasila sebagai ideologi dan negara Indonesia muncul ketika pada 1 Maret, Kumakichi Harada menceritakan tentang pembentukan badan bertugas menyelidiki Persiapan Kemerdekaan dengan nama Dokuritsu Junbi Cosakai ( Komite usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau disingkat BPUPKI).

Ketika BPUPKI resmi terbentuk pada tanggal 29 April 1945, yang ditunjuk sebagai Ketua adalah Wedyodiningrat disertai oleh Pangeran Pandji Soeroso dan orang-orang Jepang sebagai Wakil Ketua. Soeroso itu sendiri benar-benar memegang dua posisi yakni sebagai Kepala Sekretariat BPUPKI bersama Abdel Gafar dan Masuda Toyohiko. Ketika didirikan, memiliki 67 anggota dengan 7 dari mereka adalah orang-orang Jepang yang tidak memiliki hak suara.

Pada tanggal 28 Mei 1945, sidang Volksraad pertama dilaksanakan di Jalan Pejambon 6, Jakarta. Hari percobaan pertama adalah hanya upacara peresmian dan sidang sebenarnya di mulai pada hari berikutnya selama empat hari. Dalam percobaan ini, Muhammad Yamin menyampaikan pidato dan merumuskan hal-hal sejarah awal lahirnya Pancasila sebagai ideologi dan negara Indonesia yaitu: ideologi etnis, ideologi kemanusiaan, idiologi Ketuhanan, idiologi demokratis dan kesejahteraan ideologi.

Pada 1 Juni 1945, Soekarno memicu dasar-dasar nasionalisme, internasionalisme, kesejahteraan, ketuhanaan dan konsensus sebagai negara. Dia juga memberikan nama dasar-dasar Pancasila, makna lima Pancasila yang berarti dasar atau prinsip.

Pancasila menyebabkan kelahiran 9 Komite termasuk Soekarno, Mohammad Hatta, kulang.pero Abikoesno, Abdul Kahar, Agus Salim, Achmad Soebardjo, Mohammad Yamin dan Wahid Hasyim. Panitia ini kemudian ditugaskan untuk merevisi Pancasila yang telah terpicu oleh Soekarno dalam pidato.

Perumusan berikutnya akan menjadi pencipta sejarah lahirnya Pancasila sebagai ideologi dan negara Indonesia adalah ketika dia membuat Piagam Jakarta dalam pertemuan non formal pada tanggal 22 Juni 1945 dengan 38 Anggota BPUPKI. Pada pertemuan ini, perdebatan antara kelompok-kelompok Islam yang menginginkan Indonesia menjadi sebuah negara Islam dan orang-orang lain ingin Indonesia menjadi negara sekuler.

Ketika mereka mencapai persetujuan, mereka menciptakan sebuah dokumen yang disebut Piagam Jakarta di mana ada saran bahwa para pengikut Islam wajib menegakkan hukum Syariah. Desain ini akhirnya dibahas secara resmi pada tanggal 10 Desember dan 14 Juli 1945, di mana dokumen telah dipecahkan menjadi dua disebut Deklarasi kemerdekaan dan pembukaan.

Pada 17 Agustus 1945, mengikuti penyerahan Kekaisaran Jepang yang juga diikuti oleh orang Papua, Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan bertemu Sukarno untuk menyatakan keberatan mereka dengan rumus sebelumnya bahwa pengikut Islam harus sesuai Syariah Islam. Soekarno Hatta segera menghubungi dan merencanakan pertemuan dengan perwakilan dari kelompok-kelompok Islam.

Pada akhir tahun 1949, Republik Indonesia harus menerima perumusan penggantian bentuk pemerintahan negara bagian federal dan hanya menjadi negara Belanda. Saat itu, kerangka telah dibentuk mengikuti Pancasila yang hampir modern. Beberapa bulan setelah menjadi RIS, banyak negara telah dipilih untuk bergabung dengan Republik Indonesia di Yogyakarta dan sepakat untuk mengadakan perubahan konstitusi Provisional menjadi RIS. Di zaman kehancuran RIS, kerangka Pancasila tidak berubah dari awal era RIS didirikan oleh Belanda.

Ketika 5 Juli 1959, Presiden Soekarno memutuskan untuk mendirikan sebuah konstitusi yang disahkan pada tanggal 18 Agustus oleh PPKI untuk menggantikan Konstitusi Provisional yang gagal untuk menetapkan keadaan stabil. Setelah penggunaan UUD 1945, Pancasila menjadi resmi sebagai Pancasila dalam Mukadimah yaitu Pancasila yang kita kenal di era modern.

Hal lain yang merupakan titik penting dalam sejarah lahirnya Pancasila sebagai ideologi dan negara Indonesia adalah ketika insiden terjadi 30 gerakan September (G30S) pada tahun 1965. Meskipun masih sering terjadinya  perdebatan tentang siapa dan apa motif di belakang kejadian ini, militer bersama dengan kelompok keagamaan terbesar pada waktu untuk menyebarkan pandangan bahwa kejadian ini berasal dari seorang aktivis PKI yang ingin mengubah negara ideologi Pancasila menjadi ideologi Komunis. Karena percobaan kudeta gagal, pada 1 oktober, pemerintah Orde Baru memutuskan bahwa Pancasila menunjukkan kekuatannya melawan ideologi Komunis.

Prinsip-prinsip atau isi Pancasila

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

Prinsip ini menekankan kepercayaan kepada Tuhan. Ini juga menyiratkan bahwa masyarakat Indonesia percaya pada kehidupan setelah kematian. Menekankan beberapa nilai-nilai akan memimpin orang-orang untuk kehidupan yang lebih baik. Prinsip yang terkandung dalam UUD 1945.

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab

Prinsip ini memerlukan bahwa manusia sebagai ciptaan Tuhan. Ini menekankan bahwa masyarakat Indonesia tidak mentolerir oppresion fisik atau rohani manusia oleh mereka sendiri atau oleh bangsa lain.

3. Persatuan Indonesia

Prinsip ini mewujudkan konsep nasionalisme Ibu Pertiwi hidup bagi bangsa. Ini menggambarkan kebutuhan kesatuan nasional dan integritas.

4. Kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan, dalam permusyawaratan perwakilan

Demokrasi Pancasila untuk pengambilan keputusan melalui musyawarah atau untuk mencapai konsensus. Ini menyiratkan bahwa pemungutan suara tidak dianjurkan selama pembahasan. Ini adalah demokrasi yang hidup sampai prinsip-prinsip Pancasila.

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Kesejahteraan bagi seluruh penduduk, bukan dalam statis tetapi dalam cara yang dinamis dan progresif. Ini berarti bahwa semua sumber daya alam negara dan potensi nasional harus digunakan untuk kebaikan. Keadilan sosial menyiratkan perlindungan bagi mereka yang lemah. Tetapi perlindungan tidak boleh menyangkal mereka yang bekerja. Sebaliknya, mereka harus bekerja sesuai dengan kemampuan dan bidang kegiatan mereka. Perlindungan harus mencegah kesengajaan pengobatan dengan kuat dan memastikan aturan keadilan.

Pentingnya Pancasila bagi Indonesia

Jika kita melihat situasi Indonesia saat ini, kita harus mengakui bahwa jauh dari apa yang kita inginkan untuk mencapai sebagai independen bangsa. Sukarno dan Hatta menyatakan kemerdekaan Indonesia tahun 1945 atas nama semua orang untuk menjadi bebas dari kolonial dan memiliki kehidupan yang jauh lebih baik. Itu adalah niat yang kuat untuk membangun masyarakat yang sejahtera dan hanya untuk semua rakyat Indonesia.

Pendiri Republik Indonesia adalah Bung Karno. Mereka tidak hanya memutuskan untuk membuat Pancasila Indonesia, mereka juga mendirikan Pancasila sebagai prinsip dasar Republik Indonesia. Pancasila harus menjadi prinsip untuk membangun masyarakat sejahtera dan berkeadilan.

Bung Karno menjelaskan nilai-nilai yang terintegrasi dalam Pancasila. Dia menyatakan bahwa dia bukanlah pencipta Pancasila. Dia adalah hanya satu yang diidentifikasi oleh Pancasila sebagai nilai-nilai asli yang memandu kehidupan orang-orang dari Kepulauan Nusantara. Meskipun terdiri dari banyak etnis yang juga memiliki masing-masing  budaya, mereka memiliki nilai-nilai Pancasila sebagai sebuah common denominator atau sifat serupa. Seperti anggota keluarga, dimana tidak ada perbedaan.

Tapi bagaimanapun mereka semua bersatu dalam satu keluarga. Masyarakat Indonesia berbeda, satu dari yang lain, tetapi mereka bersatu dalam satu bangsa. Mereka adalah berbeda dalam kesatuan mereka dan Inggris dalam perbedaan mereka. Pancasila merupakan warisan budaya masyarakat Indonesia.

Sayangnya, Bung Karno sebagai Presiden pertama Indonesia tidak melakukan cukup kuat untuk menciptakan sebuah masyarakat yang baru di Indonesia berdasarkan Pancasila. Tidak ada yang menyangkal kecemerlangan Bung Karno ketika dia termotivasi dalam perjuangan politik yang melawan kekuasaan kolonial dan imperialis. Namun, komitmen untuk mengembangkan kesejahteraan bagi semua orang Indonesia adalah jauh dari cukup, meskipun bimbingan Konstitusi dan pernyataannya sendiri pada tahun 1945. Setelah 20 tahun kepemimpinan Bung Karno, rakyat Indonesia masih hidup miskin.

Ketika Bung Karno digantikan oleh Soeharto sebagai Presiden Indonesia, tahun-tahun awal membawa perubahan positif dalam menciptakan kehidupan yang lebih makmur. Sejak tahun 1968, bangsa Indonesia memulai program pembangunan nasional di mana ekonomi adalah faktor utama. Secara bertahap kemakmuran rakyat, termasuk daerah pedesaan, menunjukkan perbaikan dan jumlah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan menurun. Pak Harto juga mendirikan sebuah pusat Pancasila di mana orang belajar tentang hal-hal penting dari nilai-nilai Pancasila dan kemudian menyebar ke orang lain melalui kuliah dan seminar.

Namun, Pak Harto juga kemudian membuat kesalahan serius ketika hasil dari pertumbuhan ekonomi tidak merata didistribusikan dalam masyarakat. Jika selama kepemimpinan Bung Karno banyak masyarakat miskin, selama rezim Pak Harto sebagian kecil dari masyarakat menjadi sangat kaya tetapi sebagian besar orang tetap miskin. Selain itu, peningkatan kehidupan ekonomi itu tidak cukup seimbang dengan perbaikan yang serupa terhadap kehidupan politik yang sejak Bung Karno tidak memberikan tempat untuk partisipasi masyarakat. Ada perasaan yang kuat di antara sebagian besar dari orang-orang di sekitar Pak Harto mendapatkan kesempatan untuk secara aktif berpartisipasi dalam kehidupan politik.

Mayoritas orang-orang yang tidak puas dengan keadaan hukum dalam kehidupan setiap hari. Banyak orang mengatakan bahwa aturan hukum dan keadilan hanya dilaksanakan dalam mendukung mereka yang kuat secara politik dan ekonomi. Semua praktek-praktek ini selama rezim Pak Harto itu jelas bertentangan dengan nilai Pancasila. Oleh karena itu, meskipun selama kepemimpinan Pak Harto, kemakmuran secara umum meningkat dibandingkan dengan situasi sebelumnya, ketidakpuasan di antara orang-orang adalah sebagian besar dipengaruhi oleh kurangnya keadilan dalam hidup.

Krisis ekonomi pada tahun 1998 dan dampak berat terhadap Indonesia memberikan kesempatan kepada sekelompok reformator untuk menggulingkan kepemimpinan Pak Harto. Mereka menerima dukungan yang kuat, khususnya Elite yang terdidik. Orang-orang menginginkan perubahan yang lebih baik!

Namun, setelah 10 tahun reformasi, hasilnya adalah bukan dengan apa yang di inginkan. Para pemimpin dari gerakan Reformasi itu tidak mampu menciptakan kepemimpinan yang kuat untuk memandu reformasi ke arah yang benar. Kemudian itu dimanipulasi oleh kekuatan-kekuatan luar dan dalam negeri dengan mendukung perubahan dan bahkan bertentangan dengan Pancasila. Ini adalah kekuatan mendukung liberalisme dan individualisme, nilai-nilai yang sangat berbeda dari Pancasila. Mereka memberitakan yang tidak terbatas terhadap kebebasan individu dalam setiap aspek kehidupan.

Kehidupan politik dijadikan alat untuk mencapai ambisi dan kepentingan tanpa pertimbangan dari entitas sosial. Dalam pasar ekonomi pasar menjadi faktor utama, tanpa pertimbangan untuk kepentingan masyarakat umum. Dan saat berada di luar pengaruh globalisasi, kepentingan nasional mudah dikorbankan.

Sekarang, Indonesia yang telah lama merdeka di mana bangsa dengan banyak kelemahan dan bahkan disebut oleh beberapa orang sebagai bangsa gagal. Meskipun banyak reformis mendukung liberalisme mungkin memiliki niat yang kuat untuk menyingkirkan Pancasila, mereka tidak memiliki keberanian moral untuk melakukannya. Apa yang mereka lakukan adalah untuk mengubah undang-undang dasar 1945 untuk melaksanakan agenda untuk liberalisme. Langkah pertama mereka adalah untuk mengubah Konstitusi dengan yang baru dalam mendukung liberalisme.

Langkah berikutnya mereka pasti akan menargetkan pembukaan menyebabkan Pancasila menghilang dari Konstitusi dan digantikan oleh sebuah konstitusi baru meningkatkan individualisme dan liberalisme sebagai panduan bagi bangsa.

Tapi mengapa Pancasila sangat penting bagi Indonesia? Hal ini penting karena budaya dan bukan politik yang menentukan keberhasilan masyarakat. Ini telah jelas terbukti dengan sejarah banyak bangsa di dunia dan situasi Indonesia sebagai hasil dari warisan budaya.

Argumen yang lain mendukung Pancasila adalah bahwa di antara banyak etnis dan kelompok agama di Indonesia. Ada perasaan yang kuat bahwa hanya Pancasila dapat menjamin tempat yang adil untuk setiap kelompok, bahkan jika itu adalah sebuah minoritas kecil. Hidup akan tidak didominasi oleh mayoritas besar.

Itu sebabnya kepemimpinan nasional yang kuat sekarang harus serius memulai penerapan nilai-nilai Pancasila. Langkah pertama merupakan realisasi dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika atau kesatuan dalam keragaman. Artinya penghormatan terhadap tempat dan kebebasan individu dan harmoni dengan kebutuhan sosial. Ini juga berarti pengakuan akan pentingnya masing-masing kelompok etnis dan agama dalam kesatuan nasional.

Menurut Pancasila, upaya yang kuat harus dilakukan untuk menciptakan kemakmuran yang lebih tinggi untuk semua orang. Orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan harus teratasi di Indonesia, digantikan oleh kelas menengah yang kuat dan luas sebagai mayoritas penduduk. Semua orang harus memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik, tetapi politik harus berorientasi ke arah pembentukan masyarakat yang sejahtera.

Kehidupan ekonomi harus mengembangkan daya saing nasional agar bangsa berpartisipasi secara efektif dalam ekonomi internasional dan menjadi bagian dari globalisasi tanpa membahayakan kepentingan nasional dan kehidupan masyarakat umum. Dan sebagai pengakuan atas Allah SWT semua aspek kehidupan harus dipandu oleh standar moral dan etika yang tinggi.

Upaya ini perlu kepemimpinan nasional yang kuat dan aktif, berkomitmen untuk pelaksanaan Pancasila sebagai warisan budaya dan prinsip-prinsip dasar Republik. Kepemimpinan yang mampu memberikan contoh untuk semua orang dan tim kepemimpinan lokal. Itu akan memotivasi orang untuk mencapai yang terbaik dalam setiap aspek kehidupan.

Itu juga jelas menunjukkan perlunya perubahan dari program aksi yang hadir dalam kehidupan politik, ekonomi dan sosial. Dengan perubahan ini, Indonesia akan secara bertahap kembali bergerak untuk mencapai tujuan nasional.

Filsafat Pancasila

Pancasila, juga dieja sebagai Pantjasila, filsafat negara Indonesia yang dirumuskan oleh pemimpin nasionalis Indonesia Sukarno. Itu pertama diartikulasikan pada 1 Juni 1945, dalam sebuah pidato oleh Sukarno yang disponsori oleh Jepang selama pendudukan Perang Dunia II. Sukarno berpendapat bahwa pemerintah Indonesia masa depan harus didasarkan pada 5 prinsip-prinsip Pancasila. Pernyataan tidak disambut baik oleh pemerintah Jepang, tetapi Persiapan Kemerdekaan Indonesia sedang dilanjutkan.

Dalam Konstitusi Republik Indonesia diumumkan pada tahun 1945, lima prinsip yang tercantum dalam urutan yang sedikit berbeda dan dalam kata-kata yang berbeda: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Masyarakat yang di pimpin oleh kebijaksanaan, dalam permusyawaratan perwakilan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pengembangan Pancasila

Sejak berdirinya, Pancasila menjadi subjek dari perbedaan pendapat. Salah satu wilayah utama yang menjadi perdebatan dari ke-5 pilar adalah (Ketuhanan Yang Maha Esa). Selama negosiasi mengenai prinsip ini kaum nasionalis prihatin bahwa perumusan harus memperlakukan kebebasan beragama. Orang-orang Muslim ingin formulasi yang mana agama Indonesia adalah Islam.

Pada tanggal 18 Agustus 1945, kelompok Konstitusi secara bulat setuju bahwa istilah “Allah” harus diganti dengan “Tuhan”, satu istilah lebih umum yang didukung oleh umat Hindu. Kata ‘Ketuhanan’ dan ‘Allah’ digunakan dalam Pembukaan Konstitusi, tetapi istilah ‘Allah’ muncul dalam Pasal 9 yang menentukan kata-kata sumpah jabatan Presiden. Ada ‘janji’ atau sumpah Presiden yang tidak menyebut Tuhan sama sekali.

Pancasila dan simbol-simbol

Seperti yang telah kita ketahui, Indonesia adalah salah satu negara dengan keragaman di dunia. Indonesia adalah negara yang memiliki wilayah yang luas di dunia. Indonesia memiliki luas sekitar 5.19325 juta km² yang meliputi darat dan laut. Sementara itu, National Geographic, Indonesia memiliki 15.466 Kepulauan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Pada tahun 2014, “Badan Pusat Statistik Nasional” melaporkan bahwa penduduk Indonesia pada September 2014 berjumlah sebanyak 245.862.034 jiwa menjadi ke-4 terbesar di dunia dengan jumlah penduduknya.

Berdasarkan data dari sensus penduduk yang dilakukan oleh (BPS) Republik Indonesia, jumlah kelompok-kelompok etnis di Indonesia yang berhasil dicatat adalah suku-suku sebanyak 1,128 (pertama di dunia). Indonesia juga memiliki lebih dari 746 bahasa lokal (paling pertama di dunia). Di Indonesia juga mengakui agama yang resmi adalah enam (Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, Konfusianisme) dan beberapa agama (seperti Sunda Wiwitan, Jawa, Animisme dan lain sebagainya).

Selain itu, Indonesia adalah negara dengan etnis, agama, bahasa dan budaya yang sangat beragam. Kita sebagai orang-orang yang tinggal di Indonesia atau Indonesia harus menghormati dan menegakkan keragaman. Pancasila adalah nilai-nilai universal yang diyakini mampu merangkul semua perbedaan-perbedaan yang ada. Oleh karena itu, sebagai warga negara Indonesia atau bertempat tinggal di Indonesia, kita harus memahami nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dan melakukannya setiap hari dalam hidup.

Lambang atau simbol negara Indonesia adalah Garuda dimana badan yang ditutup dengan perisai dan “Bhinneka Tunggal Ika”. Simbol-simbol Pancasila berkumpul bersama dalam bingkai berbentuk perisai. Di bawah ini adalah deskripsi dari lambang negara bersama-sama dengan simbol Pancasila.

* Garuda Pancasila

Garuda muncul dalam berbagai kisah, terutama di Jawa dan Bali. Dalam banyak kisah, Garuda melambangkan kebajikan, pengetahuan, kekuatan, keberanian, kesetiaan dan disiplin.

* Perisai

“Perisai” adalah perisai yang telah lama dikenal dalam budaya dan peradaban sebagai bagian dari senjata yang melambangkan perjuangan, pertahanan dan perlindungan diri untuk mencapai tujuan.

1. Aturan pertama dengan lambang bintang, Ketuhanan Yang Maha Esa

Bintang pada simbol sarana prinsip pertama mencerahkan dan memberi terang kepada bangsa. Terus memberikan terang seperti dewa yang artinya adalah jalan cahaya sehingga negara dapat mengambil jalan yang benar, sebagai contoh penerapan prinsip pertama adalah “semua orang harus menghormati agama orang lain”

2. Kedua adalah jaringan atau rantai, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Rantai adalah simbol dari prinsip kedua, ini terdiri dari rantai bulat (melambangkan perempuan) dan rantai persegi (melambangkan pria). Ini melambangkan kemanusiaan yang adil dan beradab begitu kokoh sebagai rantai. Sebagai contoh adalah “kesetaraan, hak dan kewajiban setiap hak asasi manusia (kesetaraan)”.

3. “Pohon Beringin”, Persatuan Indonesia

Pohon beringin adalah pohon besar yang memiliki cabang yang sangat banyak. Selain itu, pohon beringin juga memiliki akar yang sangat kuat dan tersebar, seperti keragaman etnik dan bangsa Indonesia harus tetap bersatu. Contoh-contoh praktek ketiga prinsip adalah “kepentingan kelompok” dan bukan kepentingan pribadi.

4. “Kepala Banteng”, yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

Kepala banteng memiliki arti bahwa hewan memiliki kepala yang kuat. Sapi jantan adalah hewan yang memiliki kehidupan sosial yang tinggi dan suka berteman. Itu berarti bahwa kita harus rajin musyawarah dalam memecahkan masalah dan membuat keputusan dan demokratis. Contoh-contoh prinsip keempat bahwa “memilih ketua kelas atau menghormati orang lain ketika berbicara”

5. “Padi dan Kapas”, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Rangkaian padi dan kapas adalah simbol kebutuhan dasar manusia, makanan pokok seperti beras dan kapas untuk pakaian. Jadi simbol ini bertujuan untuk menyediakan kebutuhan dasar setiap bangsa Indonesia secara merata dan cukup. Contoh-contoh praktek Pancasila “memberikan kepada orang-orang yang tidak mampu”

6. Pita putih

Di bagian bawah dari Garuda Pancasila, ada pita putih yang berbunyi “Bhinneka tunggal IKA” ditulis dengan huruf Latin Nasional Indonesia. Kata “Bhineka” berarti beraneka ragam atau berbeda, mengatakan “Single” berarti satu, dan “Ika” berarti bahwa. Ika adalah sebuah kata dalam bahasa Jawa kuno berarti “berbeda tapi satu”. Kata ini diambil dari empu Sutasoma Kakimpoi Tantular, seorang penyair dari Kerajaan Majapahit di abad ke-14. Kata-kata yang menggambarkan kesatuan dan keutuhan NKRI Indonesia terdiri dari banyak pulau-pulau, ras, suku, adat, budaya, bahasa dan agama.

Bulu dan lambang lain Garuda Pancasila

  • Garuda Pancasila adalah lambang negara Republik Indonesia dan memiliki moto “Bhinneka Tunggal Ika” (kesatuan dalam keragaman).
  • Kepala Garuda yang menoleh ke perisai kanan (dari sudut pandang garuda), berbentuk seperti Herawati yang memakai rantai di leher.
  • Simbol-simbol ini dirancang oleh “Sultan Hamid II dari Pontianak, yang kemudian disempurnakan oleh Presiden Soekarno dan diresmikan sebagai lambang negara Republik Indonesia pada rapat kabinet tanggal 11 Februari 1950.
  • Garuda Pancasila dikenal melalui mitologi kuno dalam sejarah Indonesia, menggambarkan bahwa Indonesia adalah sebuah bangsa yang kuat. Garuda berwarna keemasan melambangkan kemuliaan.
  • Garuda memiliki paruh, sayap, ekor dan cakar yang melambangkan kekuatan dan kekuasaan pembangunan.
    Jumlah bulu Garuda Pancasila melambangkan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, yaitu: 17 bulu pada setiap sayap, 8 bulu pada ekor, 19 helai bulu di bawah perisai atau di pangkal ekor, 45 helai bulu terdapat pada di leher.

Nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila

Nilai yang terkandung pada setiap sila Pancasila harus di terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai tersebut antara lain sebagai berikut.

A. Ketuhanan Yang Maha Esa

  • Keyakinan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa beserta sifat-sifatnya yang maha segalanya.
  • Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  • Setiap warga negara Indonesia harus memeluk salah-satu Agama, melakukan ibadah sesuai Agamanya secara taat, serta menghormati pemeluk Agama lain.

B. Kemanusiaan yang adil dan beradab

  • Pengakuan terhadap adanya martabat Manusia.
  • Selalu bersikap adil.
  • Menghargai hak dan kewajiban orang lain.
  • Bersikap tenggang rasa dan mau melakukan kegiatan kemanusiaan.

C. Persatuan Indonesia

  • Pengakuan terhadap keanekaragaman bangsa Indonesia.
  • Lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  • Mengembangkan sikap rela berkorban, cinta tanah air dan menjada persatuan bangsa.
  • Memiliki semangat Bhinneka Tunggal Ika.

D. Kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

  • Kedaulatan di tangan rakyat.
  • Manusia Indonesia sebagai warga negara dan warga masyarakat Indonesia mempunyai hak dan kewajiban yang sama di depan umum.
  • Mengutamakan musyawarah mufakat Dalam pengambilan keputusan dan menghormati serta melaksanakan hasil keputusan.
  • Mengembangkan sikap kekeluargaan.

E. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

  • Selalu bersikap adil.
  • Menghormati hak orang lain.
  • Membantu orang lain.
  • Bersikap hemat.
  • Menghargai hasil karya orang lain.

Sifat hukum Pancasila

“Tanpa Keadilan tidak mungkin berdaya; Mungkin tanpa keadilan adalah tirani “(Blaise Pascal, 1941).

Roda reformasi yang berubah puluhan tahun yang lalu masih belum menunjukkan transformasi kehidupan berbangsa dan bernegara ke arah yang lebih baik, kecuali memastikan kebebasan dalam berbagai aspek. Ini dapat terlihat oleh berbagai fenomena sedih. Sebagai contoh, kesulitan dalam kehidupan orang-orang kecil yang tetap sengsara, rasa keadilan diinjak-injak oleh aparat penegak hukum itu sendiri yang menghancurkan kepercayaan publik di dalam hukum, penguasaan sumber-sumber Nasional oleh pihak asing, praktek korupsi semakin lazim dan terlihat di semua tingkat pemerintahan, partai politik semakin pragmatis, disfungsional dan disorientasi, intelektual merobek martabat mereka sendiri oleh “penggadaian” idealisme.

Nilai-nilai Pancasila sebagaimana telah dinyatakan dalam Majelis perwakilan Ketetapan MPRS rakyat mengenai Keputusan No. XX / MPR / 1966, adalah pada dasarnya cara hidup, kesadaran dan cita-cita hukum dan moral mulia yang meliputi suasana psikologis, serta karakter bangsa Indonesia. Menilai dari posisinya, Pancasila sebagai sumber hukum tertinggi dalam pembentukan hukum nasional, berarti itu berfungsi sebagai pengukuran untuk mengevaluasi hukum.

Mengapa Pancasila melamar sebagai sumber utama hukum dalam kehidupan negara dan bangsa? Karena prinsip-prinsip Pancasila secara eksplisit menyebutkan kata ‘Keadilan’ di kedua prinsip dan ‘keadilan’ dalam 5 prinsip. Oleh karena itu, sifat hukum Pancasila adalah keadilan yang identik dengan inti dari cara hidup masyarakat Indonesia yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Karakter hukum Pancasila yang menonjol adalah Nurturing atau memelihara. Pelaksanaannya dalam urutan hukum yang dicirikan oleh yang responsif terhadap pengembangan dan aspirasi harapan masyarakat. Dengan kata lain, hukum dimaksudkan untuk menciptakan kondisi sosial yang manusiawi sehingga memungkinkan proses sosial berlangsung secara alami. Dengan demikian, dalam dunia yang adil setiap orang mendapatkan kesempatan yang luas untuk mengembangkan potensi semua umat manusia secara keseluruhan. Melalui dan dengan hukum, individu atau masyarakat dapat hidup dan kehidupan yang layak serta bermartabat.

Lebih khusus lagi tentang kedamaian sejati akan menyadari setiap warga negara dapat merasakan kedamaian batin. Mengganggu perdamaian akan diperoleh ketika masyarakat yakin bahwa kelangsungan hidup dan aktivitas mereka tidak bergantung dan tidak didasarkan pada “kebaikan” para penguasa yang menginginkan sesuatu. Selain itu, selama itu tidak melanggar hak-hak dan lain-lain, dimana warga negara dapat dengan bebas melaksanakan apa yang dia percaya akan kebenaran, Bisakah itu diperlakukan adil, manusiawi, adil dan beradab bahkan ketika mereka membuat kesalahan.

Sebagai sebuah negara yang patuh hukum, harus ada lembaga peradilan yang independen dari intervensi dari lembaga negara lainnya, yang menjamin kualitas dan integritas hakim, menjamin hak asasi manusia. UUD 1945 berfungsi sebagai patokan dalam administrasi negara, jaminan hukum yang menyediakan pemeliharaan dan perlindungan bagi semua warga negara, menjamin realisasi bersih dan jujur.

Pandangan dunia

Filsafat hidup Pancasila diformulasikan dalam kesatuan 5 prinsip bahwa setiap mengungkapkan nilai-nilai fundamental serta menjadi 5 prinsip-prinsip operasional dalam hidup termasuk pelaksanaan kegiatan negara dan pengembangan praktis hukum. Menurut Prof. Mochtar Kusumaatdja, Pancasila berfungsi sebagai nilai dasar yang membentuk dasar referensi untuk mencapai atau mempertahankan sesuatu, serta nilai-nilai baik yang patut diperjuangkan.

Tujuan dari undang-undang yang berdasarkan cita-cita hukum Pancasila berarti menyadari dan memelihara manusia dengan secara pasif melindungi melalui pencegahan tindakan sewenang-wenang oleh para penguasa dan aktif menciptakan kondisi manusiawi yang memungkinkan proses sosial manusia terjadi secara alami. Dengan demikian, cukup memungkinkan setiap manusia untuk menerima komprehensif dan kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi kemanusiaan secara keseluruhan.

Ini adalah sebuah keniscayaan bahwa negara ini akan independen, maju dan makmur ketika moral dari para pemimpin yang baik serta hukum berlaku didasarkan pada nilai-nilai kesopanan. Jadi, moralitas berbasis agama adalah pilar utama dalam pengembangan masyarakat dengan martabat dan menopang iman. Ini juga telah diucapkan blak-blakan meskipun hukum dirumuskan dalam peraturan tata kelola holistik relatif sederhana dan tidak lengkap, tetapi jika moralitas, integritas dan  kompetensi baik, maka pemerintahan akan berjalan lancar. Jadi, hal yang paling penting adalah moralitas, karakter mulia dan kecerdasan pemimpin sebagai pilar utama.

Sahabat, sampai disini penjelasan dari kami mengenai Pancasila. Semoga apa yang kami sampaikan ini menjadi sumber bacaan yang sangat bermanfaat serta berguna bagi banyak pembacanya. Demikian ini kami sampaikan sebagai bahan ilmu pengetahuan tambahan. Selamat membaca dan semoga bertemu lagi pada lain kesempatan.